Language

Serba-Serbi Studi di Swedia ala Margaretha Liliana Situmorang, Peraih Beasiswa Swedish Institute

Last updated on 10 Aug 2020
Serba-Serbi Studi di Swedia ala Margaretha Liliana Situmorang, Peraih Beasiswa Swedish Institute

IMG_6348.PNG


Bermimpi Melanjutkan Studi ke Eropa? Jangan lewatkan EHEF 2018, pameran pendidikan tinggi Eropa terbesar di Indonesia yang paling dinanti-nanti. Segera daftarkan dirimu sebagai peserta dalam perhelatan akbar EHEF 2018 secara GRATIS di sini.


Oleh Erzawansyah

Namanya Margaretha Liliana Situmorang. Perempuan yang bulan depan genap berusia 25 tahun itu, merupakan salah satu mahasiswa jurusan Sustainable Urban Design di Lund University, Swedia, yang berasal dari Indonesia.

Etha, begitu panggilannya, sudah menjalani kuliah di Lund University sejak tahun 2017. Ia merupakan salah satu penerima beasiswa dari Swedish Institute. Sehingga, seluruh pendanaan ditanggung oleh lembaga milik pemerintah Swedia tersebut.

Meski baru terwujud pada tahun 2017 lalu, sebenarnya keinginan Etha untuk kuliah di Eropa sudah terpupuk sejak ia duduk di bangku SMA. Mulanya, ia tertarik untuk menjalani kuliah di Jerman. Bahkan, ia berniat untuk melakukan hal itu selepas masa SMA. Akan tetapi, ibunya menasihati Etha untuk menunda rencananya tersebut.

Kata mamaku jangan S1 di sana, tapi waktu S2 saja. Kalau S1 di luar negeri, nanti malah tidak punya kecintaan terhadap Indonesia,” kata Etha.

Etha mengikuti nasihat ibunya. Selepas SMA, ia tidak langsung mendaftar ke kampus di Jerman, melainkan di Universitas Gajah Mada (UGM). Perempuan kelahiran Pematang Siantar tersebut mengambil jurusan arsitektur.

Paska lulus dari UGM, sebenarnya Etha masih berkeinginan untuk melanjutkan studi ke Jerman. Akan tetapi, ia mulai menyadari bahwa kuliah arsitektur di Jerman bukan sesuatu yang mudah. Terutama masalah bahasa. Menurutnya, jurusan arsitektur di kampus Jerman membutuhkan kemampuan berbahasa Jerman yang baik.

Tanpa memiliki kemampuan bahasa Jerman yang baik, Etha khawatir ia akan ketinggalan pelajaran. Untuk itu Etha memutuskan untuk mundur secara perlahan dari keinginannya melanjutkan studi di Jerman.

Tapi aku tetap punya keinginan untuk kuliah di Eropa,” tegasnya.


Untuk info lebih lanjut tentang Kuliah di Swedia, klik di sini.


Alasan Etha Memilih Eropa

Ada alasan menarik di balik keinginan Etha melanjutkan kuliah di Eropa.

Menurutnya, Eropa tidak jauh berbeda dengan ASEAN.

Mengapa demikian?

Jawabannya adalah keberagaman.

Eropa terdiri dari banyak negara dengan latar belakang, budaya dan karakteristik orang yang berbeda-beda. Namun, mereka hidup dalam satu lingkungan, yakni Uni Eropa.

Negara-negara di Eropa saling bertetangga dan mereka membuat semacam perkumpulan. Ibaratnya, seperti arisan gitu,” ujar Etha, diiringi tawa kecil.

Hubungan antar negara di Eropa itulah yang menurut Etha tidak jauh berbeda dengan hubungan antar negara di ASEAN.

Tidak seperti di Amerika. Sekalipun terbagi ke dalam beberapa negara bagian, wilayah-wilayah di Amerika tetap berada pada satu negara, yaitu Amerika Serikat. Lagipula, karakteristik budaya di Amerika lebih seragam dibandingkan dengan Eropa.

Itu mengapa aku tertarik untuk kuliah di Eropa. Sepertinya juga lebih make sense saja kalau orang Indonesa melanjutkan kuliah di sana. Karena background-nya mirip,” jelas perempuan kelahiran 1993 itu.

Setidaknya ada tiga negara Eropa yang ia tuju kala itu, yakni Inggris, Norwegia dan Swedia.

Inggris ia pilih karena di sana terdapat beasiswa Chevening. Selain itu, di Inggris juga terdapat perguruan tinggi yang jurusan arsitekturnya masuk ke dalam 10 besar terbaik dunia.

Adapun Norwegia, kata Etha, ia pilih karena perguruan tinggi di sana gratis. Selain itu, Norwegia juga merupakan negara Skandinavia, yang menurut Etha, adalah negara dengan tingkat kebahagiaan relatif tinggi.

Kemudian saat mencari informasi mengenai perguruan tinggi di Norwegia, Etha menemukan informasi-informasi menarik mengenai Swedia. Semakin mendalami informasi-informasi tersebut, Etha pun semakin tertarik untuk apply ke perguruan tinggi di sana.

Angin segar datang sekitar tahun 2017. Usahanya mengajukan beasiswa dan mendaftar ke berbagai perguruan tinggi di Eropa yang ia lakukan sejak tahun 2014 berbuah manis. Etha diterima di Lund University, Swedia. Menyusul tak lama kemudian, kabar baik dari Swedish Institute turut menghampirinya. Etha diumumkan sebagai penerima beasiswa dari lembaga di bawah pemerintah Swedia tersebut.

With SI Scholarship Holder.JPG

Para penerima beasiswa Swedish Institute Study Scholarships

Info lengkap mengenai Beasiswa Swedish Institute, klik di sini.


Hal-Hal Penting Tentang Kuliah di Swedia Yang Perlu Diketahui

Kesempatan melanjutkan studi di Swedia menggunakan beasiswa Swedish Institute, tentunya tak ingin Etha sia-siakan. Kesempatan itu ia ambil. Tahun 2017 lalu, ia berangkat ke Swedia, sekaligus memulai ceritanya sebagai mahasiswa Sustainable Urban Design di Lund University.

Saat ini Etha sudah memasuki semester tiga. Artinya, ia sudah satu tahun lebih berada di Swedia. Tentu ada banyak hal yang ia pelajari selama hidup di sana, khususnya dalam kehidupan kampus.

Apa saja?

Berikut hal-hal yang perlu diketahui, mengenai kuliah di Swedia.

Pengalaman Kerja 3000 Jam

Kampus-kampus di Swedia memang tak mewajibkan calon mahasiswanya memiliki pengalaman kerja. Meski begitu, apabila memang berniat untuk kuliah di sana, apalagi menggunakan beasiswa, pengalaman kerja sangat disarankan.

Etha mengatakan, minimal pendaftar memliliki pengalaman kerja selama 3.000 jam. Pengalaman kerja yang dimaksud, bisa berupa apa saja. Baik itu kerja di perusahaan, internship, volunteer dan lain-lain. Akan tetapi, dalam melengkapi berkas-berkas yang dibutuhkan, sebisa mungkin semua pengalaman kerja yang pernah kita lakukan, ditulis semua.

Hal ini bermaksud untuk meminimalisir perbedaan cara menghitung pendaftar/calon mahasiswa, dengan pihak perguruan tinggi atau penyalur beasiswa soal jam kerja yang ditempuh. “Kalau punya lima pengalaman kerja, ya ditulis lima-limanya. Jangan cuma ditulis dua. Jaga-jaga kalau cara hitung kita dan mereka beda,” jelas Etha.

Kerja Keras vs Kerja Efisien

Hal pertama yang membuat Etha kaget saat mulai menjalani kuliah di Swedia adalah ritme belajar di sana.

Bila di Indonesia Etha terbiasa dengan kerja keras, baik saat belajar di dalam, maupun di luar kelas, di Swedia justru sebaliknya. Menurut Etha, ritme belajar di Swedia cenderung santai. Dalam satu hari, jam kuliahnya berkisar pukul 09.00 s/d 17.00 WIB. Dan dalam seminggu, maksimal kuliahnya hanya tiga hari.

Kalau dulu aku sampai lembur-lembur mengerjakan tugas, kalau ini malah cenderung santai. Jadi, lebih banyak student activity-nya,” jelas Etha. Di luar jam di kelas, lanjut Etha, ada tugas-tugas yang diberikan oleh para dosen. Dapat berupa tugas individu, maupun tugas kelompok.

Kendati begitu, Etha menambahkan, daripada dibilang santai, sistem pendidikan di Swedia sebenarnya lebih tepat disebut kerja efisien. Jadi, para mahasiswa sebenarnya dituntut untuk memaksimalkan hasil mereka dengan kerja yang secukupnya.

Para dosen di sana, meminta agar mahasiswa bisa memanfaatkan jam belajar di kelas semaksimal mungkin. Tidak perlu sampai lembur malam, sebagaimana yang Etha lakukan waktu kuliah S1. Namun, bagaimana mahasiswa dapat mengerahkan seluruh kemampuan untuk membuat hasil yang benar dan tepat, dalam rentang 09.00 s/d 17.00 tersebut.

Iya, kalau di Indonesia kita dituntut untuk kerja keras. Kalau disini, kerja efisien. Kerja secukupnya, dengan hasil sebaik-baiknya,” tegas Etha.

Hasil Cantik vs Hasil Benar

Hal lain yang dinilai berbeda oleh Etha, adalah pandangan para dosen dalam menilai hasil pekerjaan mahasiswanya. Misalnya, dalam bidang keilmuan yang digelutinya, para dosen meminta mahasiswa untuk menciptakan sebuah desain.

Berdasarkan pengalaman Etha, saat di Indonesia, mahasiswa diminta untuk menghasilkan desain itu secantik-cantiknya. Hal tersebut menurutnya kerap membuat waktu dan tenaga mahasiswa di Indonesia terkuras.

Sedangkan di Swedia, para dosen menilai desain tersebut melalui perspektif yang lebih mendasar.

Bagaimana konsep dasar dari desain yang dihasilkan? Bagaimana cara berpikir para mahasiswa dalam menghasilkan desain tersebut? Serta bagaimana kemungkinan desain itu diterapkan dalam kehidupan nyata?

Mereka benar-benar melihat kerangka di balik desain yang dihasilkan. Apakah benar dan masuk akal? Soal cantik atau tidaknya, itu urusan kesekian,” kata Etha. Baginya, hal tersebut merupakan brainstorming dalam melihat suatu karya.

With International Mentor Group.JPG

Bersama International Mentor Group

Official Website: Study in Sweden


Serba-Serbi Swedia

Lalu, bagaimana tentang kehidupan sehari-hari Etha di Swedia?

Iya, selama lebih dari setahun Etha tinggal di Swedia, ia tidak hanya mendapatkan pelajaran tentang kehidupan kampus saja. Perempuan berdarah Batak ini, juga mendapat banyak pelajaran dalam menjalani kehidupan sehari-hari selama kuliah di Swedia.

Adapun hal-hal yang dipelajarinya, antara lain:

Persamaan Derajat

Ada nilai universal yang berlaku dalam hubungan antar sesama manusia, yang Etha rasakan saat berkomunikasi dengan orang-orang Swedia. Menurutnya, orang-orang Swedia sangat menjunjung tinggi persamaan derajat. Hal ini tidak hanya tampak pada kehidupan sehari-hari, melainkan juga kehidupan kampus.

Salah satunya, para mahasiswa tidak perlu memanggil dosen dengan sebutan ‘bapak’ atau ‘ibu’. Tidak masalah, bila hanya memanggil dengan sebutan nama. “Menurutku ini value yang bagus, equality. Jadi, kita benar-benar diperlakukan sebagai manusia, tidak melihat kita punya apa, atau kita bisa apa. Semuanya dipandang sederajat,” ungkap Etha.

Kemandirian

Swedia dikenal dengan negara yang apa-apa mahal. Maka, apabila kita tidak dapat berhemat, sulit untuk bertahan hidup di sana. Hal ini juga dirasakan Etha, pada awal-awal tinggal di Swedia.

Saat di Indonesia, Etha terbiasa beli makanan di luar. Apalagi, di Yogyakarta, makanan tidak begitu mahal. Sehingga, hanya dengan membeli saja, Etha mengaku bisa bertahan hidup di kota tersebut. Namun, kondisinya sangat jauh berbeda ketika ia berada di Swedia. Apabila bergantung pada ‘membeli makanan’, biaya yang dikeluarkan sangatlah besar. “Karena di sana, apa-apa mahal,” katanya.

Akan tetapi, di sisi lain Etha tidak bisa memasak. Pernah suatu ketika, ia menangis karena selama satu minggu, Etha hanya makan roti saja. “Kadang-kadang pakai selai. Mau bagaimana, di sana makanan mahal. Tapi, waktu itu aku tidak bisa masak. Lihat dapur saja sudah gugup,” ungkap Etha.

Hingga ada seorang teman yang mengajaknya untuk belanja ke supermarket. Di sana ia diajak untuk berbelanja bahan makanan dan bumbu dapur. Ia juga diajari cara paling sederhana untuk memasak. Mulai saat itulah, ia memberanikan diri untuk memasak sendiri. “Jadi, sekarang kalau mau makan, masak dulu. Dan aku bisa bertahan hidup sampai sekarang,” katanya, sambil tertawa kecil.

Bagi Etha, pengalaman tersebut sangat berkesan, karena selain membuatnya bisa masak, pengalaman itu juga mengajarkan Etha tentang kemandirian dan bagaimana cara berhemat untuk bertahan hidup.

With PPI Scania.JPG

Bersama anggota PPI lainnya

Manajemen Waktu dan Skala Prioritas

Hal lain di Swedia yang membuat Etha belajar, adalah ritme kehidupan di sana.

Aktivitas Etha di Swedia sangat padat, begitu pun dengan orang-orang Swedia itu sendiri. Sepulang kuliah, ia harus mengurus organisasi, kemudian tugas dari dosen, dan aktivitas-aktivitas lainnya. Bahkan ia bisa melakukan lima aktivitas sekaligus dalam satu hari.

Hal tersebut membuatnya merasa tidak memiliki waktu berkumpul bersama teman-teman untuk sekadar nongkrong dan hang out bersama teman-temannya. Padahal saat di Indonesia, hanya ajakan “ayo nongkrong” sepulang kuliah saja, bisa membuatnya menghabiskan waktu buat nongkrong bersama teman-temannya selama berjam-jam.

Di sini, karena jadwalnya padat, jadi kalau ada yang ngajak nongkrong, tidak bisa langsung ku terima begitu saja. Jadi, aku lebih bisa bagi prioritas aja sih,” kata Etha.

Kondisi itu juga berlaku pada orang-orang Swedia. Itu mengapa, bahkan untuk nongkrong bersama teman-teman sekalipun, harus membuat janji dua minggu sampai satu bulan sebelum waktu yang ditentukan. Aktifitas mereka cukup padat. Bahkan, saking padatnya, apabila ada teman yang berkunjung ke rumah mereka tanpa membuat janji terlebih dahulu, mereka berhak untuk menolak kedatangannya.

Dan kita tidak boleh sakit hati. Karena mereka berhak untuk melakukan hal tersebut. Beda kaya di Indonesia. Kalau di Indonesia, semisal kita punya waktu longgar, tinggal bilang, ‘eh gue main ke kosan lu ya,’ masih mungkin diterima,” jelas Etha.


Beasiswa Kuliah ke Swedia lainnya: LPDP Reguler dan LPDP Afirmasi


Mempersiapkan Diri Berkuliah di Swedia ala Etha

Etha tidak hanya berbagi cerita dan pengalamannya menjalani studi di Swedia.

Ia pun juga membagikan tips and tricks untuk mempersiapkan diri melanjutkan studi di sana.

Berikut, tips dan trik ala Etha, yang saat ini masih menjalani masa studinya di Lund University, Swedia.

Persiapkan waktu yang cukup

Jangan mendadak.

Apabila ingin kuliah di Eropa, khususnya Swedia, persiapkan segala sesuatunya jauh-jauh hari. Menurutnya, waktu yang ideal adalah satu tahun. Gali informasi yang cukup dan persiapkan segala sesuatunya dengan matang. Karena akan ada banyak hal-hal mengejutkan, selama masa persiapan tersebut.

Kalau tidak dipersiapkan jauh-jauh hari, nanti terkejut,” pesan Etha.

Menghadapi Tes IELTS

Ya, salah satu syarat wajib untuk kuliah di Swedia adalah IELTS.

Oleh karena itu, selama masa persiapan, latih kemampuan berbahasa Inggris kita agar mendapatkan skor IELTS yang tinggi. Etha sendiri, punya cara sendiri untuk meningkatkan skor IELTS-nya.

Untuk melatih kemampuan writing, selama berbulan-bulan Etha mulai menulis blog menggunakan bahasa Inggris. “Kalau tidak blog, bisa juga caption Instagram. Pokoknya, setiap hari membiasakan diri untuk menulis pakai bahasa Inggris,” jelas Etha.

Adapun untuk melatih kemampuan listening, Etha menyarankan untuk menonton Youtube berbahasa Inggris. Tapi, tidak menggunakan subtitle. “Subtitlenya dimatikan. Kalau kurang jelas, ya diulang-ulang dua sampai tiga kali,” katanya.

Terakhir, kemampuan speaking. Etha mengatakan, ia melatih kemampuan berbahasa Inggris dengan mengajak temannya untuk berbincang-bincang menggunakan bahasa Inggris.

Dan selain ketiga hal tersebut, Etha juga membeli sebuah buku panduan dalam menghadapi tes IELTS. “Semua saya lakukan secara otodidak dan tidak pernah kursus,” tegasnya. Ia merekomendasikan buku yang berujudul Barron's The Leader in Test Preparation: IELTS Strategies and Tips.

Menulis Motivation Letter

Menurut Etha, hal pertama yang perlu dilakukan saat menulis motivation letter adalah mengenali diri sendiri.

Ini sangat penting, karena diri kita sendirilah yang akan kita eksplorasi lebih lanjut dalam motivation letter tersebut. Kelebihan dan kekurangan dalam diri kita sendiri, bisa dibuatkan poin-poin dan ditulis, kemudian disusun berdasarkan prioritas.

Namun, sebelum menulis motivation letter, Etha menyarankan agar kita juga banyak membaca contoh-contoh motivation letter dari orang lain. Hal ini tidak hanya bermanfaat untuk membuka wawasan, melainkan juga menghindari plagiarisme. Dengan banyak mengetahui motivation letter orang lain, kita bisa mengambil perspektif atau gagasan berbeda, sehingga membuat motivation letter yang kita buat nantinya menjadi orisinil.

Bulatkan Tekad!!

Dan hal terakhir yang paling utama dan paling penting adalah tekad.

Tanpa tekad yang bulat, motivasi kita untuk berusaha akan menyusut.

Inilah yang dirasakan Etha, pada tahun 2016 lalu.

Sebagaimana diketahui, Etha lulus dari gelar UGM pada tahun 2014. Sebenarnya sejak saat itu, ia telah apply beasiswa dan mendaftarkan diri ke perguruan-perguruan tinggi di Eropa. Akan tetapi, tekadnya saat itu belum bulat. Karena ia juga memiliki keinginan untuk bekerja lebih dulu dan belum terlalu memikirkan untuk melanjutkan kuliahnya ke jenjang S2.

Sampai pada akhirnya tahun 2016, tekadnya sudah berada pada titik paling bulat. Etha berkomitmen pada dirinya sendiri, bahwa tahun 2016 adalah tahun terakhir baginya untuk berjuang agar dapat kuliah di Eropa. “This is the last year,” ujar Etha dalam hati, waktu itu.

Bermodal tekad tersebutlah usaha demi usaha semakin giat dilakukan oleh Etha. Walhasil, Etha berhasil meraih apa yang ia mimpikan sejak dulu. Itu mengapa tekad sangat penting menurut Etha. Karena dengan tekad tersebut, kita akan terdorong untuk berusaha lebih banyak.

Push your self, believe in your self, and do the best!,” pungkasnya

Jika kamu ingin mendapatkan informasi langsung dari perwakilan Study in Sweden (Swedish Institute), kamu bisa bertemu mereka di EHEF Indonesia 2018 bulan November ini! Daftar di sini!