Language

Erasmus+ Scholarship Programmes | EU Scholarships Info Day Webinar

A transcription from the webinar Erasmus+ | Study in Europe | EU Scholarships Info Day 2021.

Last updated on 27 Sep 2021
Erasmus+ Scholarship Programmes | EU Scholarships Info Day Webinar

Study in Europe with Erasmus+ Scholarship

Screen Shot 2021-06-16 at 18.10.37.png

Note: This is a transcription from the webinar "Erasmus+ | Study in Europe | EU Scholarships Info Day 2021"

Alisha Kusuma - Moderator (AK): Halo, selamat datang kembali di EU Scholarship Info Day. Nama Saya Alisha Kusuma, saya akan menjadi moderator untuk webinar hari ini. Di sesi ini saya akan mengundang European Union (Erasmus+) untuk berbagi mengenai kesempatan beasiswa yang bisa diberikan kepada mahasiswa Indonesia oleh Uni Eropa. Hari ini kita akan kedatangan Mas Hanif Falah EMA Country Representative for Indonesia. Mas Hanif Falah,I give the floor to you.

Hanif Falah (HF): Hi, thank you Alisha for the introduction. Halo semuanya, saya Hanif Falah, sekarang saya merupakan Lead Country Representative of Erasmus Mundus Association Indonesia. Jadi hari ini saya mau presentasi dulu untuk informasi, apa sih Erasmus, dan bagaimana daftarnya, atau eligibility, kemudian benefit beasiswanya apa aja, saya akan share screen dulu.

What is Erasmus+?

Erasmus+ itu merupakan beasiswa yang diberikan oleh European Union. Seperti Alisha bilang tadi, bahwa ini dari Uni Eropa yang diberikan kepada mahasiswa, baik yang datang dari Uni Eropa maupun yang datang dari negara non Uni Eropa. Dan yang kita bahas sekarang adalah untuk Indonesia terutama, dan ini merupakan negara non-EU.

Types of Scholarships

Tipe-tipe beasiswanya apa saja?

Yang pertama, ini yang paling terkenal ya sepertinya yaitu EMJMD Erasmus Mundus Joint Master Degree, ini adalah beasiswa flagship untuk Master Degree, period nya 1-2 tahun kemudian kita juga ada Marie Sklodowska-Curie Actions (MSCA) ini merupakan Doctoral Degree atau S3, study period 3 tahun.

Kemudian ada juga Visiting Scholar for Academics or Research, ini termasuk mengajar atau riset nantinya di negara Eropa dan ini maksimal programnya adalah 3 bulan.

Nah ini juga yang terkenal dari Erasmus yaitu International Mobility for Students and Staff(s) atau sebelumnya dikenal dengan ‘exchange’, ini merupakan pertukaran mahasiswa Indonesia ke Eropa untuk waktu 6-12 bulan dan ini untuk Bachelor, Master atau Doctoral Degree. Terkenalnya memang ini di Bachelor Degree, jadi sampai sekarang dominasinya yaitu Bachelor Degree mahasiswa Indonesia yang berangkat ke Eropa.

Erasmus Mundus Joint Master Degree

Speaking of EMJMD, apa sih EMJMD?

Jadi EMJMD merupakan beasiswa yang di organize oleh European universities under consortium.

Jadi kalau teman-teman sudah pernah buka websitenya, di sebelah kanan ini kan ada tulisan 130 courses, jadi di websitenya itu ada 130 courses yang teman-teman bisa lihat dari Social Science, Politics, Economics, Engineering, Culture Arts, ada banyak disitu dan biasanya beberapa tahun sekali, bahkan tiap tahun, ada yang ganti. Jadi teman-teman harus lihat selalu disitu course nya.

Dan biasanya dalam satu course itu ada 3 universitas yang menjadi universitas di consortium tersebut. I’ll explain more later, kalau masih bingung. Study periodnya 1-2 tahun seperti yang tadi saya bilang dan either itu 60 ECTS atau 120 ECTS. Teman-teman bisa cek di katalog EMJMD Catalog, atau google saja “Erasmus Mundus Master Degree” nanti biasanya sudah keluar listnya.

Nah, bedanya Erasmus sama beasiswa yang lain, yaitu adalah Erasmus nomor satu, teman-teman ketika mendaftar Erasmus, teman-teman tidak perlu mendaftar kampus dan beasiswa secara terpisah. If you got the Erasmus, you got the universities, you got a scholarship, itu sudah pasti.

Dan yang kedua, itu teman-teman bisa berpindah-pindah, atau kita memanggil di sini ‘mobility’ itu yang paling terkenal Erasmus itu adalah teman-teman semester 1 misalnya di Belanda, semester 2 ada di Prancis, terus Semester 3 ada di Italia misalnya. Jadi teman-teman akan berpindah dalam 2 tahun ke beberapa negara.

Study Scheme of EMMA

Kita ambil contoh di sini, studi nya namanya Erasmus Mundus Master’s in Journalism, Media and Globalisation.

Tahun pertama teman-teman ada di Aarhus University dan Danish School of Media and Journalism.

Kemudian di second year, teman-teman bisa memilih beberapa dari universitas ini, ada Swansea University, University of London, University of Amsterdam dan University of Hamburg. Dan ini tergantung konsentrasi yang teman-teman pilih. Ketika teman-teman daftar, teman-teman sudah harus declare konsentrasi yang mau dipilih apa. Dan biasanya ini kan in line with your background, be it education or experience, jadi teman-teman sudah bisa tentukan ekspektasi nya mau ke konsentrasi mana ketika daftar.

Study Scheme of AFEPA

Contoh lain misalnya ada AFEPA, yaitu European Master’s programme in Agricultural, Food and Environmental Policy Analysis. Jadi ini teman-teman bisa spesialis nya di agri-food and trade policy, environmental and natural resource policy, dan lain-lain. Jadi teman-teman ketika memilih spesialisasi, teman-teman akan memilih kampus yang specialize disitu.

And I think it’s the reason why Erasmus ketika dikasih jurusan, Erasmus+ menunjuk universitas tersebut karena universitasnya memang yang terkenal di bidang itu.

Jadi that’s why di antara satu consortium, misalnya ada 5 universitas dengan konsentrasi yang berbeda akan placed in different universities because they are specialized in that major, and I think that’s the benefit of Erasmus+.

AFEPA ini kalau kita lihat main partner-nya misalnya ada di Milan (Italy), Bonn (Germany), Uppsala (Sweden), kemudian Louvain-la-neuve (Belgium). Ini ada Associated Partner Universities, beberapa program dari Erasmus+ itu enable you to go to other continents.

Di sini kita bisa lihat ada Latin Amerika, ada juga Afrika, akan ada Australia. Teman-teman bisa ke sana, ke beberapa negara yang di luar Eropa ini untuk misalnya bisa riset untuk tesis nya atau mengambil summer course program khusus mereka, atau juga mengambil beberapa studi di situ yang memang mereka terdaftar sebagai partner university untuk memberikan kuliah beberapa semester kalian. Erasmus+ tidak hanya di Eropa, tapi beberapa program mereka juga enable you to move around the world.

Who is Eligible to receive the scholarship?

Siapa sih yang eligible untuk menerima scholarship?

Karena kita sekarang ngomongin yang Indonesia, maka pertama you are non-EU citizen, which I’m sure you are, everyone here. Yang kedua, not registered as a citizen in any EU countries, berarti kalian tidak pegang Permanent Residence dan lain-lain. Kemudian yang ketiga kalian belum pernah melakukan aktifitas baik itu working or studying for more than 12 months in 5 years in any EU countries.

Nah balik ke exchange tadi, makanya exchange itu maksimal 12 bulan, karena kalau kalian lebih dari 12 bulan, kalian pulang exchange, kalian tidak bisa apply untuk beasiswa ini dalam kurun waktu 5 tahun. That’s why the duration of the exchange is a maximum of 12 months.

Scholarship Grant

Untuk Master’s Degree, itu ada tuition fee, yaitu 18,000 Euro, sebenarnya tidak perlu dipusingkan karena tuition fee akan dibayarkan oleh consortium. Jadi kalian ketika ke sana, kalian kuliah saja, kalian tidak akan terbebani urusan administratif untuk membayar tuition fee.

Yang kedua adalah living allowance, 1,000 Euro per bulan, travel allowance itu 3,000 per tahun. Ini ada beberapa pertanyaan kalau kita mengadakan exhibition, before the pandemic kan kita biasanya ada education fair gitu, well now it’s an education fair as well, but online, tapi waktu itu kita dapat pertanyaan bahwa travel allowance nya gimana karena kan pindah-pindah ya, dari Indonesia ke Eropa kemudian semester 1 di suatu negara kemudian pindah lagi, don’t worry kalian dapat 3,000 Euro per tahun untuk allowance travelnya.

Kemudian settlement allowance itu pertama kali datang di kasih 1000 Euro, ya mungkin kalian butuh beli buku, butuh beli peralatan di apartemen, dan jadi asumsinya kalian pasti butuh untuk beli barang, jadi dapat settlement allowance 1000 Euro.

Untuk Doctoral Degree, beberapa komponen sama, yang membedakan itu living allowance yang ini jumlahnya 60% lebih banyak, you guys get 1,600 Euro/month untuk Doctoral Degree. Kemudian Visiting Scholar itu 14,800 Euro/orang untuk 3 bulan tinggal di Eropa.

Basic Requirements

Yang pertama, Curriculum Vitae, Europass version. Jadi kalau kalian belum familiar dengan Europass version, ini ada website yang akan, jadi kalian masukin data nanti disitu mereka akan memformat, kalian input datanya nanti keluar bentuk CV Europass. Dan ini wajib untuk mendaftar Erasmus+, dan beberapa perusahaan juga di Eropa mereka prefer Europass version karena ini benar-benar standardized and this is formatted, jadi nggak akan ada varian dari CV-nya.

Yang kedua, of course, English Proficiency Test, IELTS/TOEFL. Untuk teman-teman yang ingin kuliah pasti sudah mengenal ini. Bebas sebenarnya mau IELTS atau TOEFL, kalian bebas memilih.

Kemudian yang ketiga, diploma yaitu ijazah kalian with English translation, jadi kalau misalnya ijazahnya belum ada translation Bahasa Inggrisnya, kalian bisa, yang pertama minta ke kampus kalau ada lembaga bahasa. This is a way cheaper option, biasanya diminta nya sangat murah ya, mereka translate dan dapat stamp dari kampus so it’s legal, it’s official dan murah. Yang kedua, kalau nggak ada, kalian bisa ke sworn translator, atau penerjemah tersumpah, and it’s a bit costly dari lembaga bahasa kampus, jadi you guys can choose.

Yang keempat, recommendation letter. Recommendation letter ini bisa dari bisa dari academic supervisor atau professor, dan juga supervisor di kantor kalian. Ada beberapa program yang misalnya dia minta misalnya 3 recommendation letter, tapi pastikan at least ada satu itu dari academic supervisor. Karena ini kalian mau kuliah ya, kalian bukan mau kerja, kalian ingin kuliah jadi kalian ingin melihat kemampuan akademik kalian melalui lensa academic supervisor kalian. Jadi mereka bisa vouch kalian waktu kuliah gimana, whether you were dedicated, whether you were the brightest, top 5%, can vouch for that. Jadi, make sure ada recommendation letter dari supervisor atau professor kalian. Kemudian ada supervisor di tempat kerja.

Kalau kalian nggak yakin, ask the consortium, email them. Kalau misalnya, kadang ada yang mensyaratkan 2 academic supervisors dan cuma boleh satu supervisor kerja. Kalau misalnya masih bisa ditawar gitu, "boleh gak sih 2 supervisor?". Misalnya karena kalian graduated from your Bachelor’s institution 10 years ago for instance so probably they can give you dispensation. Make sure you email them, dan mereka ramah kok. Any questions, yang nggak ada di website, make sure nggak ada di website, kalian bisa tanya mereka.

Yang kelima, this is probably the most single important element of your application yaitu motivation letter, atau kita biasanya singkatnya motlet. Motivation letter ini penting karena disitulah mereka melihat siapa kalian. Misalnya Alisha daftar, mereka akan melihat siapa sih seorang Alisha? Karena nggak ada interview, jarang banget ada interview di Erasmus, so you guys rely on the paper. So make sure you tell them who you are on the paper, who you are academically, who you are in terms of your work contribution or your impact in society.

Kemudian career progression kalian itu gimana. Kan biasanya mereka ingin cari orang-orang yang “punya future”, gitu istilahnya ya. They want to see someone yang akan contribute much more in the future, so ensure you can show the connectivity between your past, present and future.

Dan make sure kalian juga liat programnya misalkan programnya tentang sustainability, berarti kalian akan pitching tentang sustainability. Jadi make sure kalian tweak motivation letter kalian, karena di Erasmus maksimal daftar itu 3 program.

Jadi kalian boleh daftar 3 courses di Erasmus, jadi bisa berbeda-beda tergantung kalian maunya course nya apa, bebas nggak ada limitation kayak syarat harus daftar yang mana. So make sure kalian daftar tiga untuk increases your opportunity to be accepted. But also make sure you tailor and customize your motivation letter, otherwise it would be a disaster kalau misalnya kalian daftar 1 program, daftar ke 2 program lainnya, motivation letter nya sama.

Ada additional documents tapi jarang. Biasanya ini untuk yang arts, misalnya ada yang Erasmus dance gitu, jadi arts and dance, jadi dia harus kirim video dia menari gitu, it’s a part of portfolio.

The Steps

Admission biasanya buka di November, I think this is a great time to prepare your application in May. So you have 6 months to prepare everything. Yang sebenarnya gampang tapi paling sering missed itu administratif kayak ijazah, translation. Mereka juga minta KTP, kartu keluarga, ada yang minta proof of residence, harus minta dari capil, so make sure you prepare everything karena kalau hal administratif itu tidak berat tapi cukup memakan waktu, so give it proper time.

Application process, Desember ke Februari. Biasanya ada program yang sudah tutup Desember, sampai Februari, seperti itu.

Approval from European Commission in Brussels di April sampai May, jadi sekarang sudah mulai decision, ada yang decision nya sudah dapat dari consortiumnya beberapa orang, terus akan di proceed ke European Commission. Jadi dari European Commission nanti kayak, final say bahwa kalian memang mendapatkan.

Announcement nya biasanya di May, udah ada announcement, ada juga yang April dari kemarin.

Kemudian departure, Agustus/September, nanti akan ada pre-departure orientation dari European Union bekerja sama dengan Erasmus Association Indonesia. Biasanya kita adakan di bulan Agustus atau September, biasanya kita akan ada di Jakarta. Tapi berhubung pandemi, kemarin kita online, just like this education fair and anything else in the world.

The Scholarship Benefits

Well, benefits. Interpersonal skills, sebenarnya yang paling berharga dari kuliah ke luar negeri kan, experience kalian ya. Kayak, academic experience, learning new language, exposure gitu, exposure kalian ketika berada di sana, how you mingle with people from different countries, how you survive daily life drama. To be honest, ketika kemarin saya juga Erasmus+ dan ketika saya Master’s Degree saya merasa bahwa yang paling membuat saya dewasa adalah surviving daily life drama, anything, bahkan yang paling receh let’s say buying groceries kayak gitu. Sampai yang nginep di perpustakaan berhari-hari, ups and downs, really exprienced it.

Yang kedua, kalian juga graduate with dual atau joint degree karena Erasmus+ tadi inherently you must go to different universities in different countries so you will get several degrees. Jadi bisa dual atau joint degree, ijazahnya nanti akan ada stamp dari beberapa universitas dan tanda tangan beberapa rektor.

Kemudian no commitment after graduation, some scholarships they require you to go back to Indonesia, tapi Erasmus+ nggak. You can just stay in European countries, you can work there, jadi kalian bisa berada di sana.

Yang terakhir, traveling while studying. Well, you’re in Europe, immerse yourself in arts, immerse yourself in culture, jadi traveling nya yang benar-benar with mission misalnya, with misi kalian untuk mengenal art, mengenal culture. I think it would be a really great opportunity, karena European countries they are famous for that.

Terima kasih, sekian dari saya. Kita ada akun resmi Instagram Erasmus di @erasmusplus.id di Instagram, if you have any questions, you want to ask anything at all, find information bisa dari posts kita, stories kita, kemudian bisa DM kita juga kalau ada pertanyaan. Thank you, back to you Alisha.

Q&A

AK: Terima kasih banyak, Mas Hanif. Sangat elaborated dan sangat jelas presentasinya mengenai Erasmus+.

Jadi Erasmus+ sama Erasmus Mundus Joint Program ini sebenarnya synonymous atau berbeda, bisa dijelasin sedikit?

HF: Thank you, Alisha. Karena banyak banget confusion around these terms. Jadi sebenarnya, dulu Erasmus Mundus namanya, sekarang jadi Erasmus+.

Erasmus kan banyak jenisnya, EMJMD tadi, International Mobility, kemudian ada yang S3 juga sekarang namanya jadi Erasmus+. Jadi sebenarnya sama saja, nggak ada bedanya.

Dan makanya programnya Erasmus Mundus Joint Master Degree, untuk yang exchange sekarang International Mobility, untuk yang S3 Erasmus Mundus Joint Doctoral Degree tapi sekarang jadinya Marie Sklodowska-Curie Actions. Perubahan nama aja sih, tapi esensi nya sama, beasiswa nya sama aja.

AK: Okay, thank you so much. Jadi kan ada beberapa beasiswa dengan program studi yang berbeda-beda. Tapi untuk, khusus untuk orang Indonesia sendiri itu kuotanya berapa sih Mas Hanif?

HF: Sebenarnya tidak ada spesifik kuota untuk orang Indonesia, tapi dia memang ada spesifik kuota untuk orang per negara. Jadi per negara itu kuotanya biasanya maksimal 2-3 dalam satu program.

AK: Ketat banget dong ya.

HF: Iya, lumayan ketat karena ini kan di seluruh dunia ya. Tapi jangan salah Alisha, kita dari Indonesia menurut aku cukup berhasil. Jadi tahun kemarin kita ada increase, tahun kemarin kita top 6 dari seluruh dunia, kita ranking 6 paling banyak mengirim awardee ke Eropa.

AK: That’s impressive. Hebat mahasiswa Indonesia. Okay deh, Mas aku mulai tanya-tanya pertanyaan yang sudah masuk di chatbox ya.

HF: Okay

AK: Pertanyaan pertama, apakah beasiswa Erasmus akan mencakup biaya untuk studi di negara non-EU yang juga masuk ke dalam program Erasmus?

HF: Iya, thank you for your question. Tentunya, kalau misalnya memang negara itu terdaftar di consortium itu, yang associated partner universities, sepertinya program glokal, dia ada universitas di Latin America, ada juga universitas di Jepang kalau nggak salah, Kyoto University, jadi kalau kalian memang memilih ke situ karena dia termasuk dalam scheme consortiumnya biayanya sama aja. Dapat allowance 1,000 Euro per bulan itu tadi. Jadi nggak akan ada perbedaan. Unless kalian ngide misalnya mau ikut suatu workshop atau summer course yang disediakan oleh kampus lain yang tidak termasuk consortium, you have to pay for yourself.

AK: Hmm… Tapi diperbolehkan jadinya? Kan akan memperpanjang waktu program beasiswanya itu sendiri kan? Jadi boleh nggak itu dilakukan?

HF: Kan kalau summer ada liburan summer ya, it’s up to you mau isinya apa saja. Some people mereka join workshop, join summer course. Tapi kalau itu tidak ada di program, then you have to pay for yourself, bayar sendiri.

AK: Okay, I see. Boleh nanya nggak, kalau misalnya ada kelas yang nggak lulus, ada yang failed, biasanya kebijakan apa sih dari Erasmus+ untuk cases seperti itu?

HF: This is a very good question, Alisha. Karena kita juga ada cases seperti ini ya. Sebenarnya yang pertama, have a good communication.

Karena kebanyakan kita sebagai, maksudnya kita kayak orang Indonesia, tingkat nggak-enakan itu tinggi ya, kan kalau di luar sana they are just being blatant dan just being blunt gitu kan. That’s what I love about the culture. Pernah ada yang failed tapi dia tidak reach out. Kemudian sampai ke European Union waktu itu, ke Ibu Destri, bahkan juga sampai di cc. Jadi ternyata professornya bilang sebenarnya, dia bahkan email mahasiswanya, sebenarnya kalau dia mau, bisa email saya, kemudian mereka bisa pikirkan gimana cara dia untuk re-seat the exam. Jadi, it’s all about communication.

Tapi saya, nggak bisa guarantee kalau kalian failed pasti akan bisa di ulang, but there was precendity where they allow you to reseat the exam. Dengan catatan kalian yang harus proaktif, kayak, “oh sorry saya gagal” with whatever reason misalnya personal, atau you’re having a mental health issue, misalnya ada family issue, whatever it is, tell them dan mereka akan consider itu. Seperti itu sih.

AK: Okay, jadi harus terbuka dengan situasi yang dilaluin ya setiap mahasiswanya. Okay, got it. Ini pertanyaan yang menarik karena tadi Mas Hanif mention kalau misalnya profil dari applicant harus ditonjolkan di kertas, jadi secara tertulis. Ini point nya penting nih, point apa yang paling berpengaruh ketika mendaftar EMJMD? Apa faktor yang paling harus ditonjolkan?

HF: Sebenarnya kalau saya pribadi dan pengalaman teman-teman ya yang dari Erasmus, yang lebih ditonjolkan itu pertama kalian itu harus lihat dulu programnya. Mereka itu ngapain, terus misi mereka tuh apa sih? Misi, program ini. Jadi kalian dari situ bisa coba make it compatible with your profile. Tapi jangan juga dipaksa. Kalau misalnya memang nggak cocok sama kalian, jangan coba dipaksa-paksa untuk compatible.

Yang kedua, sebenarnya, motivation letter itu journey sih. Nggak bisa kayak dua bulan kalian bikin terus berharap bagus karena pasti ada edit-edit lagi dan ide itu datang di saat yang unexpected.

Waktu saya bikin motivation letter itu saya pernah, saya lagi gosok gigi tiba-tiba kepikiran, terus saya langsung tulis gitu karena I was afraid it would disappear from my brain gitu the next seconds. Kadang juga misalnya kalian sudah tulis kalian diamkan, lihat beberapa hari lagi, terus kalian kayak geli sendiri “ih, apaan sih tulisan ini?” gitu. You got better idea, it’s always work on a progress. Jadi jangan takut, harus pertama kali terus perfect, itu nggak akan ada cerita seperti itu. Kalian harus read it over and over.

Nah, trick nya adalah, kalian looking back in the past kalian itu sudah ngelakuin apa aja sih?

Kadang kita tuh lupa loh kalau kita sudah berkontribusi terhadap sesuatu, mengerjakan sesuatu, terus kita lupa tulis itu atau lupa ingat itu. Jadi, cari sebenarnya kalian itu siapa sih, as a person? What is your true voice? What is your life mission yang berhubungan dengan jurusan itu?

Misalnya, ternyata kalian sejak kuliah S1 kalian sangat rajin volunteer dan it’s your calling gitu. Misalnya kalian merupakan volunteer gitu. This is a part from the obvious part yaitu academic degree kalian, GPA kalian misalnya ya, atau kalian prestasi nya ikut olimpiade, ikut debat internasional misalnya.

Apart from that, kalian juga harus bisa menceritakan siapa kalian dari sudut pandang yang berbeda itu. Kalau GPA kan mereka bisa lihat di CV, mereka bisa baca hal-hal yang seperti itu. Yang mereka pingin lihat adalah apa yang tidak tertulis di CV itu.

Nah, biasanya connect tuh, dari past nya ngapain, present nya ngapain, dan future nya ngapain. Ada satu contoh, motivation letter yang bagus yaitu ada satu orang mendaftar dengan jurusan ekonomi dia menceritakan bagaimana ketika dia ke pasar, dia kerja di central bank, ketika dia ke pasar dia melihat bahwa this is activity on the micro level of what he made. Jadi seluruh kebijakan yang dia buat, akan berpengaruh terhadap orang-orang di pasar. Dan menurut saya itu bagus banget ya, sederhana, konservasi, tentang pasar, ternyata dari pasar itu lah ada trade ada economic activity yang dihubungkan dengan kerjaan dia yaitu dia terlibat dengan pembuatan kebijakan. Jadi, menurut saya hal-hal se simple itu, jangan saklek kayak misalnya saya GPA nya sekian, no. Tapi tunjukin value apa sih yang ada di diri kalian, yang membuat kalian itu bisa berbeda. Karena saya yakin yang daftar Erasmus juga pintar-pintar, IPK nya tinggi-tinggi. Ya mereka semua pasti punya achievement. Terus apa yang buat kalian berbeda? Itu yang paling penting.

AK: Jadi narasinya itu juga harus dikemas semenarik mungkin ya dari cerita-cerita yang mungkin kasarnya bisa nggak keliatan tapi kalau dikemas dan dihubungkan sama the purpose and the bigger story, it would be very interesting.

HF: That’s a really good summary. Jadi setelah kalian dapat S2 itu, kalian mau ngapain? Misalnya gara-gara Erasmus, that would propel your career. Misalnya yang tadi cuma officer, kalian yakin kalian bisa jadi manager setelah Erasmus. Simple aja, nggak usah yang lebay kayak “Saya mau jadi presiden setelah lulus”.

AK: Tapi kalau mau jadi presiden nggak apa-apa juga.

HF: Boleh juga sih sebenarnya, as long as you can show it. You show the path, the steps, kan itu yang mereka mau liat ya. Kalau misalnya jadi presiden tapi step nya agak kurang bisa achieve ke arah sana, ya nggak perlu yang heboh, yang sederhana tapi lebih visible, mereka lebih lihat itu.

AK: Berarti kalau narasinya bilang mau masuknya lewat orang dalam gitu ya salah ya.

AK: Mas Hanif, thank you so much for your time. Kita sekarang sudah di sesi penghujung Erasmus+, its really nice talking to you but unfortunately the time has ended now. Thank you so much Mas Hanif buat waktunya dan informasinya.

HF: Terima kasih, Alisha. It’s a pleasure to be invited, see you next time!